Senin, 29 Juni 2020

HARI-HARI SETELAH ENGKAU PERGI

"...aku bukan milik semua orang, aku ingin sembuh dengan mempersempit masalah, tapi situasi seperti ini membuat hariku semakin kacau..."
-katamu-

Hariku sepi, sunyi, kosong, mungkin hampa. 
Bukan kesunyian yang tenang, dan bukan sepi yang mendamaikan. 
Semuanya mencekam, kekosongan yang menyesakkan. 
Di hari yang kujalani, di jalan yang kulangkahi, aku menemukan banyak liku dan ceruk yang harus aku jalani tanpa ada yang dapat mengerti.

Dan kau, masih terus menyapaku lewat mimpi dan lagu-lagu yang kau kenalkan pada relung hatiku.
Dirimu yang kurasakan begitu nyata dan hadir tepat di hadapanku, selalu kau sangkali.
Kau menyebut dirimu sendiri sebagai bayangan.

Namun aku paham, bayangan tak akan pernah bisa menyentuh jiwaku begitu dalam.
Bayangan tak akan pernah mampu mendekap diriku seerat yang engkau lakukan.
Kau adalah bayangan paling nyata yang mampu merenggut jiwaku dalam seketika.

Sehari setelah dirimu memilih melepaskan hidup, aku runtuh.
Hanya lagu-lagu yang kau kenalkan dalam lubuk hatiku yang mendampingi aku sepanjang waktu.
Kau masih ada bagiku.

Aku kira kepergianmu akan lebih lama dari ini, dan aku salah, engkau pergi lebih cepat dari yang dapat aku kira.

"...aku gak minta lebih atau kurang akan dirimu, cukup seperti ini saja aku sudah senang, tidak lebih, dan tidak kurang..."
-katamu-

Kita dipertemukan oleh jarak, dan oleh jarak juga kita terpisah, memaksa kita menembus ruang dan waktu untuk bertemu secara batin di tempat rahasia.

Kepegianmu adalah luka bagiku, namub obat bagimu.

Segeralah kembali, aku sungguh merindukan hadir bayangmu, meski hanya bayang.